Manado, PilarSulut.com - Menjadi tugas bersama bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari segala macam ancaman serta turut memajukan bangsa ini dari ketertinggalan dan kemiskinan.
Ketertinggalan dan kemiskinan di bangsa ini menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam upacara Bela Negara yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulut pada Rabu (21/12) pagi tadi, persoalan tersebut sedianya menjadi perhatian bersama.
Wakil Gubernur Sulut Drs Steven O E Kandouw saat membacakan sambutan Presiden RI Joko Wodo mengatakan peran terhadap kemiskinan merupakan bagian daripada aksi Bela Negara.
“Upaya kita melawan ancaman kemiskinan, keterbelakangan dan ketertinggalan adalah upaya membela negara,” kata Wagub dalam sambutanya.
Selain itu dikatakan Wagub Kandouw, pada momentum hari bela negara tahun ini, mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk belajar dari sejarah perjuangan bangsa.
“Sejarah mencatat bahwa Republik Indonesia bisa berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat tidak lepas dari semangat bela negara dari seluruh kekuatan rakyat,” tukasnya.
Tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa, bersifat konvesional atau fisik semata akan tetapi sudah berkembang baik fisik maupun non fisik.
“Kesadaran bela negara sangat penting untuk ditanamkan sebagai sikap dan perilaku bangsa Indonesia,” tuturnya.
Hal ini merupakan bentuk revolusi mental sekaligus untuk membangun daya tangkal bangsa dalam menghadapi kompleksitas dinamika ancaman sekaligus untuk mewujudkan ketahanan nasional.
“Kesadaran bela negara dapat diaktualisasikan dalam peran dan profesi setiap warga negara masing-masing,” tutupnya.
Upacara Peringatan Hari bela negara diikuti oleh ASN lingkup Pemprov Sulut, Ormas, LSM, Organisasi Kepemudaan, Forkopimda dan berbagai kalangan, seperti pelajar, masyarakat sipil, TNI dan Polri. (Khay)
