Boltim, Pilarsulut.com - Sejumlah warga mulai mengeluhkan susahnya mendapatkan air bersih di desanya. Bertahun-tahun warga telah mengalami penderitaan karena sulitnya mendapatkan air bersih. Situasi makin para saat musim kemarau tiba.
“Ada yang jual, satu tanki yang 1.100 liter harganya Rp 130 ribu. Hanya yang punya uang yang bisa beli,” kata Jonatan, salah satu warga desa Dodap, Rabu (28/9).
Dia mengaku pemda sudah membangun fasilitas air bersih namun sudah rusak dan tak menjangkau semua rumah.
“Kalau ada uang bisa membeli, kalau tidak harus mengambil air di tempat yang sangat jauh. Kasihan yang tak punya kendaraan,” kata dia.
Harapannya kondisi ini segera teratasi. Apalagi ada rencana pemerintah Boltim membangun fasilitas air bersih.
“Ada informasi akan membangun sumur bor. Kami khawatir tak akan mampu dibagikan ke semua warga. Jangan sampai hanya oknum-oknum tertentu yang pakai,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Boltim, Sjukri Tawil mengatakan pihaknya membatalkan pembuatan tiga sumur bor di dua desa tersebut.
“Kami tak jadi membangun tiga unit sumur bor. Dilihat secara teknis percuma kalau rusak butuh dana pemeliharaaan lagi,” bebernya.
Namun pihaknya akan membangun fasilitas air bersih melalui pipa yang bersumber dari mata air di pegunungan.
“Kita anggarkan Rp 2 miliar, kita ambil langsung dari mata air yang jaraknya beberapa kilometer. Ketimbang membuat sumur bor,” bebernya.
Diketahui tahun ini pemda akan membangun sejumlah instalasi air bersih di beberapa desa seperti di Desa Molobog senilai Rp 550.000.000, Desa Atoga Rp 246.000.000.
Selain itu, akan dibangun pula jaringan air bersih di Desa Kokapoi dan Kokapoi Timur sebesar Rp 1.246.670.000, Desa Sumber Rejo Rp 1.759.440.000, dan Desa Buyat Rp 2.055.346.200 serta optimalisasi air bersih IKK Tutuyan senilai Rp 200 juta.
Harusnya, pemda juga membuat tiga sumur bor di Desa Dodap yang anggarannya sekitar Rp 500 juta. Namun diganti dengan pembangunan fasilitas senilai Rp 2 miliar. (**)
